-->

GPS

Generation Perfect succesfully

axis bersama ibuk'e fariz

lab ipa.

haflah muwadda'ah

ini mungkin saat-saat terakhir kita untuk tinggal bersama di asrama tapi ingat kawan hati kita selalu bersama dimanapun dan kapanpun.

bersepeda ria

masih ingatkan kalian foto in?haha,y , foto ketika kita merencanakan untuk bersepeda tapi dimarahi hehe .

muka muka culun

masih ingat foto ni nggak?????hehe

lebaran

lebaran ke rumah guru2,.....

Kamis, 06 November 2014

Our Galery "Sedikit mengulas tentang kalian teman-teman terbaik :D "

Third gen baris merapat !!! 

ini dia absen 1-3 (yang laen kapan-kapan ya)

*maap jika ada foto-foto yang tidak terduga :D

 Afif Syarifuddin Yahya

Masih inget? siapa coba'? yeah .... ini nih "CAH GANTENG" nya third gen :D ..

sebelum terlalu jauh kita intip dulu foto-foto APIP dari masa ke masa ,, okay ! LETS!

 ya... ini nih ..mau lebih banyak lagi? ane punya banyak kok :D

masih inget juga ngga waktu kelas VIII ,, setiap pelajaran Bahasa Indonesia ,,,
" dibaca Afif Syarifuddin Yahya "
beberapa menit kemudian
" maju ke depan Afif Syarifuddin Yahya"
next ..
" di baca Agus Supriyanto"
de es te :D
cukup-cukup ,,
udah tau tho ,, sekarang CAH GANTENG kelahiran 21 Oct menimba air *eh menimba ilmu di MA NU TBS Kudus .... *calon yai ape nyaingi Ahmad Mahardika :D
Bisa di bilang Apip itu lumayan cuek ,, bisa terlihat dari jarangnya ikut even third gen ,,, but it's okay , yang pasti tetep ngerasa jadi keluarga kita itu cukup ,, right ? haha :D
to be continue~

Agus Supriyanto

 Jujur ya ,, dulu waktu kelas VII ane ndak pernah ngomong sama pemilik akun FB "Jembatan Penceng" Ini
 ,, karena apa? ya ane takut aja :D
Buat yang nggak tahu ,, foto yang atas itu waktu Bowo sama Agus dapet juara tiga lomba PMR (materi) di SMK Bahtera Pati.
Leader kita ini kan sekarang sekolahnya jauh pake bingits , jadi maap ya kalo jarang pulang ke Jawa ,, mohon dimaklumi..
padahal kalo ada Agus itu rasanya lengkap :D *hiks hiks :'(
next ... kayaknya di IC Agus jadi tambah cool , iya kagak sih :D
peace peace ... tapi bener kok :D .. oh ya manusia 0104 ini cocok untuk di ajak curhat atau konsultasi *kaya guru BK aja ya :D ,, de es te

to be continue~ 



Ahmad Mahardika

 Udah pada tahu belum akun Fb nya Dika yang dulunya Sapu Bin Angin sekaranf di ganti nama aslinya :D ... ane baru tahu waktu nyolong foto tadi *ups
okay fix ,,, Dika kalo nggak salah lahir satu hari sebelum Imam lahir or 120698 ,,
Ini tidak sengaja pemirsa,,, nggak sengaja dapet foto ini sama ini ... wow pak Yai sekarang gitu :D *peace dik

Pak Yai sekarang sekolah di sekolah dimana dua cewek berkamata yang di sampingnya itu sekolah ... bisa dilihat dari seragamnya,, right itu seragam MAN 2 Kudus ...
eh Jadi inget waktu atok ngamuk-ngamuk ngelempar vas bunga terus ditangkap Pak Yai ... wow itu hebat bingits :D
to be continue



Kamis, 23 Oktober 2014

Untuk Third Generation

Untuk Third Generation
Oleh Yuhuu Muchamad

langkahku terhenti
menopang hati dan mimpi
kusapu awan dilangit
indahnya langit ini
kita nikmati bersama
dalam angan dan bayangan

namun,
kucoba melangkahkan kakiku
derap demi derap
aku ayunkan dengan pasti
menuju suatu arah

dari arah itu
semburat cahaya putih menyilaukan
cahayanya terang namun mendamaikan
dari sanalah
aku melihatmu

dibalut jaz alamater kebesaran
dengan senyum yang memesona
dengan wajah nirwana

tapi sekarang
kau semakin jauh
jauh,
jauh,
tak tergapai oleh jemari-jemariku

akankah kau akan dekat kembali
sahabatku,
saudaraku,
temanku,

Kamis, 16 Oktober 2014

[CHAPTER 1] Third Rainbow: A Fiction Inspired by Third Gen



Third Rainbow

[1]

 

World Cup Pertama dan Terakhir


Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Jangan salahkan  pertemuan, jika berakhir dengan perpisahan. Jangan salahkan waktu yang telah membuat semuanya berjalan begitu cepat. Namun salahkan dirimu, yang belum mampu memanfaatkan waktu antara pertemuan dan perpisahan…

“Cepat sedikit dong, Bu, Annisa udah nggak sabar nih,” desakku pada ibu untuk segera berangkat.
“Iya, iya, Sayang. Nggak sabar kenapa sih?” tanya ibu. Lalu masuk ke dalam mobil.
“Ya, aku pengin ketemu teman-teman baru,” jawabku.
Sebenarnya dorm-nya nggak terlalu jauh, hanya puluhan kilo saja. Namun bawaanku banyak sekali. Maklum saja, pindahan pertama kali, sih.
Selama dalam perjalanan, aku diam. Tak banyak bicara. Namun hati menggebu-gebu ingin segera sampai tujuan. Ayah dan ibu juga diam. Hanya beberapa patah kata nasehat. Selebihnya, mbah putriku yang terkenal teliti (kalau nggak boleh di bilang cerewet) telah membicarakannya.
Aku menatap jauh ke luar jendela mobil. Menekuri titik-titik air yang jatuh dari langit. Menyisakan dingin di hatiku. Aku makin tidak sabar untuk sampai ke dorm. Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku juga ingin melihat wajah seseorang di sana… Di Azza Islamic Boarding School…
*---3rd Gen---*

Aku sampai di depan gerbang dorm (asrama). Aku berjalan di depan. Sampai juga rombongan kami di ruang tamu. Di sana ada seseorang laki-laki. Tinggi sekali! Tampaknya pengurus dorm. Ia menerima kedatangan kami. Lelah tergambar jelas di wajahnya. Namun tetap ramah menyambut kami.
Aku di suruh memilih lemari. Aku memilih warna merah marun.
“Aku suka yang ini, Bu,” bisikku pada ibu. Kemudian aku di suruh memilih kasur busa. Aku pilih warna hijau toska. Setelah itu, membawa semua barang-barangnya ke lantai 2, letak kamarku berada.
“Eh, iya. Salam kenal juga. Aku Mar’atul Latifah Jauharin Nafi’. Panjang ya? Panggil aja Iif. Kamu?” Aku melewati beberapa teman-teman baruku yang saling berkenalan.
“Aku Farikhah Izzatun Ni’mah. Panggil aja Icha,” ingin sekali aku berkenalan, namun yah, aku masih harus membereskan barang-barangku yang menggunung.
“Sa, jangan nakal ya, sama teman-temanmu. Jangan pelit, jangan sombong, iri. Biasa saja. Ya?” pesan ibu sebelum pamit. Aku mengangguk patuh. Masih saja di perlakukan seperti anak kecil. Hal yang paling aku benci.
 “Baiklah, ibu pulang dulu. Harus betah di sini, ya?” tambahnya.
“Ya, Bu,” aku mengantar ibu sampai di pintu kamar.
“Eh, hai. Salam kenal, ya. Aku Annisa. Kamu?” tanyaku pada pemilik lemari di sebelahku. Aku mengulurkan tangan.
“Hai juga. Salam kenal balik. Aku Iif,” balas cewek itu. Ia menyambut uluran tanganku.
“Sebentar ya. Aku mau kenalan sama yang lain,” pamitku, lalu keluar kamar.
“Iya, aku Umi. Kamu lupa, ya? Atau pura-pura lupa? Kamu ‘kan temannya Ervan,” Aku mendengar seseorang berbicara. Lalu berbalik. Tak jadi keluar.
“Umi?!” pekikku senang. Segera menghampiri cewek itu.
“Kamu ternyata sekolah di sini juga,” sambut Umi.
“Iya lah, masa’ dapet rejeki di buang-buang,” aku dan Umi memang dapat beasiswa dari sekolah.
“Senang ya, dapet teman-teman baru… Eh, sini yuk,” ajak Umi. Aku mengikutinya.
“Eh, Umi. Sini yuk, gabung,” ajak seorang cewek berkerudung biru muda.
“Kamu juga. Sini gabung, namamu siapa?” cewek itu menunjukku. Aku mendekat dengan ragu. Sejenak aku berhenti.
“Ayo, nggak usah malu-malu. Kita ‘kan bala,” ucap cewek itu lagi.
“Hehehe,” mereka tertawa. Akupun ikut tertawa. Cewek itu menarik tanganku. Lalu aku duduk.
“Umm, aku Annisa,” aku mengulurkan tangan. Cewek berkerudung biru itu menyambutnya.
“Aku Vira Octavia. Vira,” jawabnya. Lalu di ikuti teman-temannya yang lain.
“Aku Tata,”
“Fatim,”
“Aku Idha,”
“He eh. Senang kenalan sama kalian,” ucapku riang.
“If, temani aku ke toilet yuk,” aku menoleh. Seorang cewek berkerudung pink dan biru, cantik sekali dan kulitnya putih bersih. Aku terpana. Tampaknya anak orang berada.
“Cantik, ya, putih lagi. Tapi sayang, orangnya judes,” bisik Fatim.
“Oh ya? Aku kira dia baik,” aku tak percaya. Fatim mengangkat bahu.
“Entahlah. Lihat saja dia, dari tadi nggak mau gabung dengan kita-kita,” tambah Idha. Aku diam saja. Memainkan ujung jilbab putihku, berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Allahu akbar, Allahu akbar,” terdengar adzan Maghrib berkumandang.
“Wah, sudah adzan. Kita sholat di mana, nih?” tanya Umi.
“Di musholla mungkin,” jawabku sambil mengeluarkan seperangkat alat sholat.
“Tapi mendung. Lihat!” Tata menunjuk ke luar lewat jendela.
“Coba saja lihat ke luar. Mungkin kakak kelas ke musholla,” suruh Idha pada Fatim.
“Iya, ke musholla,” Fatim mengumumkan. Semua teman-temannya segera menyusul.
Sampai di musholla, mereka melanjutkan percakapan, sambil menunggu teman-teman yang lain selesai berwudhu.
"Eh, tau nggak, orang yang tadi di ruang tamu itu, iya, yang tinggi banget itu ternyata pengasuh kita lho," Vira berbisik. Ia menunjuk-nunjuk.
"Masa' sih?" gumam Umi tak percaya. Aku hanya diam mendengarkan. Tak tahu apa yang harus di lakukan.
Sholat segera didirikan. Imam sholat-nya adalah laki-laki yang tadi berada di ruang tamu. Setelah sholat dan do’a si Imam tadi segera berdiri.
"Ehm, ehm, Assalamu'alaikum Wr.Wb," laki-laki yang di bicarakan Vira tadi maju ke depan. Lalu berbicara, tepatnya sih, berpidato dengan bahasa yang sangat tidak di mengerti oleh kami –bahasa Arab. Kami diam walau tak paham. (Tepatnya sih, karena tak paham…)
Tiba-tiba, listrik padam. Aku dan teman-teman kaget.
"Hiy! Nih mukena punya siapa sih? Bikin kaget aja," bisikku. Aku menekan suara cemprengku agar tidak terlalu terdengar oleh pengasuh.
"Punyaku!" aku tidak tahu suara siapa itu.
“Fatim,"
"Sst, kalian bisa diem enggak sih?" Umi merasa terganggu. Ia asyik mendengarkan ceramah.
"Yee, mentang-mentang murid baru, terus di suruh jadi anak manis gituh?" gumam Tata. Aku, Umi dan Idha nyengir.
"Ehm-ehm" pengasuh kami, yang ternyata bernama Kak Taufik, kembali berdehem. Kami –aku cs., terkikik.
"Sst, dia tau kalo kita rame," bisik Idha, lalu kembali mendengarkan.
"Seperti inilah suasana di alam kubur, sendirian, gelap, dingin," lanjut Kak Taufik, kali ini menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menurut ejaan yang di sempurnakan.
"Hiy, mati listrik kayak gini malah ngomongin kuburan," celetuk Vira. Namun teman-temannya tak ada yang merespon. Ia hanya mengangkat bahu.
"Yang nemenin dan nerangin kita di kubur hanyalah amal baik kita di dunia," lanjutnya. Ce es-ku mendengarkan sampai selesai. Salah satu ucapan Kak Taufik yang aku ingat,
"Ke Azza, apa yang kau cari?"
*---3rd Gen---*

Selesai sholat Isya', anak-anak pulang ke dorm. Mereka saling bercanda, tertawa, bahkan lari-lari kesana kemari.
"Hiiy, Agus... Kamu bakat jadi pemain wayang orang deh," teriak Icha melihat tingkah Agus. Ia cuma nyengir. Icha kembali bernyanyi-nyanyi. Suaranya memang bagus, sih. Merdu. Tapi bukan MERusak DUnia loh.
Baby, baby, baby, ooh, like,
Baby, baby, baby, ooh, like
Baby, baby, baby, ooh,
That’s you always be mine, mine,” Icha mendendangkan lagu Baby-nya Justin Bieber yang sedang naik daun. Vira, Idha, dan Fatim menggerombol di depan pintu kamar kelas VIII.
“Malam setelah Isya’, biasanya di gunakan untuk belajar,” kata Kak Tika, kakak kelas kami, saat mereka bertanya apa kegiatan setelah sholat.
“Tapi karena malam ini pertama kalinya kalian di sini, jadi tidak ada kegiatan. Alias bebas. Apalagi besok kalian harus apel dan mengikuti MOS,” lanjutnya.
“Yes! Asyik!!” seru mereka. Segera berlari ke kamar.
"Hai teman-teman, saudara-saudari, putra maupun putri, yang tua maupun yang muda, jangan lewatkan! Nanti malam jam 00.45 ada final World Cup, Spanyol vs. Belanda… Siapa yang mau bangun? Sama aku ya?!" aku mengumumkan dengan semangat. Aku ‘kan gibol. Gila bola. Banyak komentar dari teman-teman.
"Sepakbola? Nggak banget deh, Sa. Aku nggak suka," Icha merespon.
"Aku mau bangun! Aku dukung Spanyol!" seru Umi. Umi mengacungkan dua jempolnya untukku.
"Aku nggak nonton. Tapi aku dukung Belanda," sahut Idha.
"Aku dukung Spanyol aja. Mudah-mudahan bisa bangun," jawab Dwi.
Mereka telah menyusun kasur busa mereka. Aku di apit oleh Umi dan Iif. Di sebelah kanan Iif, ada Icha. Ia terlihat asyik menggambar sambil bersenandung kecil. Aku dan Iif merubungnya.
“Kamu hobi nggambar ya, Cha?” tanya Iif.
“Nggak juga sih. Aku lebih suka nyanyi,” jawab Icha tanpa menoleh. Ia masih asyik dengan gambarnya. Aku beralih ke kasurku, mengobrol dengan Umi.
"Hey, kamu nggak pasang alarm dulu?" aku mengingatkannya. Umi yang tadinya bersiap tidur kembali meraih ponselnya.
"Jam berapa Sa?" tanyanya kemudian.
"Umm, jam 00.45 aja," jawabku.
"Eh Annisa, Umi, coba lihat kesini deh," ucap Iif. Aku mendekat.
"Apaan?"
"Nih, kamu bisa nggak, nyetting temanya? Susah banget," Iif menyodorkan ponselnya ke arahku.
"Gini sih, kecil," jawabku mengotak-atik ponsel Iif.
"Tuh ‘kan, udah bisa, kamu aja yang nggak sabaran," aku menyerahkan ponselnya. Iif berterimakasih.
"Ahh, malang sekali nasib kita...Hahaha," tawa Fatim pada Idha.
“Nggak ah, biasa aja,” jawab Idha ketus. Ia kesal sekali. Belum sehari di sini sudah dapat musibah. Aku melirik mereka berdua.
“Ada apa?”
Namun Idha hanya menunjuk dengan matanya ke arah kasurnya dan kasur Fatim, yang kini telah di tempati Amel. Bahkan tak hanya kasur, bantal milik Idha pun di pakai Amel untuk tidur.
“Sudahlah, nanti tidur sama aku ‘kan bisa,” Tata menenangkan. Sedangkan Fatim malah sudah Pe We –Posisi Wuenakk di dekat Tata. Aku tak bisa menahan tawa.
"Hey, kalian nggak tidur?" tanya Icha.
"Kamu sendiri nggak tidur gitu kok," jawab Iif.
"Yah, masa’ teman-teman nggak tidur, aku kok tidur sendiri," jawab Icha.
"Lagi pula nggak ngantuk, kok," lanjutku. Icha mengacungkan kedua jempol tanda setuju.
"Eh, teman-teman, sst, diam, Kak Taufik mau kesini," Idha mengumumkan. Semua tak merespon. Aku dan Umi sedang mengobrol tentang hasil final nanti. Seru banget.
“Kayaknya nanti berakhir dengan penalti,” ucapku. Umi mengangguk.
“Dan pasti Spanyol juaranya,” sambutnya riang.
Iif dan Icha sedang bercakap-cakap.
“If, kamu anak orang kaya, ya?” tanya Icha. Ia dan Iif sedang seru membicarakan sesuatu. Iif menggeleng.
“Nggak kok. Biasa aja,” jawabnya.
Dwi, Uswah, Vira dan Fatim bermain ponsel.
“Hey, games di ponselku baru-baru semua lho,” pamer Fatim pada mereka. Semuanya mendekat.
Tata dan Roya membicarakan tentang keluarga meraka. Idha gemas sendiri. Ia beranjak ke kasur Tata, bersiap tidur sambil sesekali menimpali cerita mereka.
“Tok, tok, tok,” pintu di ketuk. Umi yang telah membuka jilbabnya segera meraih dan memakainya. Aku langsung menutup mata, pura-pura tidur. Yang lain diam.
Setelah semua beres, Roya membuka pintu. Ternyata benar kata Idha, Kak Taufik.
"Kok belum pada tidur? Kalian pikir ini jam berapa?" tanya Kak Taufik.
“Aku pengin nonton final World Cup, Kak,” aku tak tahan untuk tetap berpura-pura tidur.
“Iya kak, ini ‘kan terakhir kalinya, besok sudah tidak ada lagi,” Umi dan Dwi mengiyakan.
“Tapi World Cup masih lama. Ini baru pukul 11.15,” jawab Kak Taufik.
“Iya, baru pukul 11.15 kok di suruh tidur?” aku balik bertanya. (Kurang ajar sekali pertanyaanku. Hehe...)
“Ya sudah terserah kalian, yang penting kalian harus tidur. Kakak juga mau nonton, kok. Kalau kalian mau, nanti kakak bangunin,” Kak Taufik menyuruh anak-anak. Kemudian pergi.
“Hah! Baru enak-enak cerita malah di suruh tidur,” Icha membuang selimutnya. Ia segera duduk.
“Iya, nyuruh tidur, tapi dia sendiri belum tidur,” omel Iif. Yang lain melanjutkan aktivitas mereka yang sempat terganggu oleh penampakan Kak Taufik. (Jahat sekali. Masa’ penampakan?! Genderuwo kale…)
"Wah, kamu ini bisa aja, Ta," kata Dwi di sela-sela tawanya. Aku termenung melihatnya. Teringat sesuatu. Dwi itu…
"Oh iya, Sa, aku ‘ntar nggak jadi nonton deh," ujar Dwi. Panjang umur…
"Kenapa?"
"Kayaknya aku nggak kuat, ngantuk..." jawab Dwi. Aku sedikit kecewa.
"Kamu nonton kan? Umi?" tanyaku. Aku berharap dapat nonton World Cup terakhir tahun ini. Juga terakhir di dorm ini. (Hiks, hiks…)
"Ya. Cepatlah kamu tidur. ‘Ntar nggak kuat lo..." jawab Umi malas.
"Ya, ya..." setengah hati, aku berbaring juga.
 “Oh, besok sudah sekolah ya? Nggak nyangka udah kelas VII,” ucapku.
“Iya, cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku ikut UN,” tambah Roya.
“Juga rasanya baru kemarin aku nonton Opening World Cup,” seruku. Teman-teman yang lain mengingatkan.
“Annisa, suaramu! Nanti Kak Taufik kesini lagi,” Dwi mengingatkan.
“Ops!” aku menutup mulut. Sorry all…
Yang lain segera sibuk dengan aktivitas mereka. Beberapa saling mengingatkan agar tidak berisik. Namun akhirnya tidak bisa menahan suara-suara mereka yang cempreng bak seribu panci peyok karatan jatuh dari puncak Monas. (Itu sih, nggak terlalu gaduh suaranya)
“Roya! Tolong dong, nyalain lampunya! Satu aja. Iya yang barat. Nah, sip!” teriakku. Teman-teman sudah capek mengingatkan. Biarkan saja, toh paling-paling cuma Kak Taufik yang kesini nanti.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas. Idha yang melihatnya segera berbisik.
“Kak Taufik datang!” beberapa saat kemudian semua penghuni kamar 02 terlihat rapi dengan kerudungnya, sedikit lebih tenang namun hanya beberapa yang pura-pura tidur. Yang lain duduk bahkan ada yang berdiri.
“Kalian! Kenapa nggak tidur-tidur juga?! Suara kalian itu terdengar sampai kamar kakak,” tegur Kak Taufik. Dia berdiri di depan pintu. Semua terdiam.
“Besok kalian harus ke sekolah. Kenapa belum tidur? Kalian bisa ngantuk di kelas,” ceramah Kak Taufik.
Aku menunduk. Yang lain diam.
“Belum ngantuk kok, kak,” jawabku memecah keheningan. Yang lain mengangguk membenarkan.
“Ya sudah, dipejam-pejamkan saja matanya, ‘ntar juga tidur sendiri,” Kak Taufik menutup pintu.
Sepertinya mereka telah mengantuk. Aku merebahkan badan. Sudah mengantuk. Yang lain juga. Hanya beberapa yang masih ‘hidup’. Uswah dan Idha main game di ponsel mereka. Akhirnya lampu dimatikan. Aku tidur dengan bahagia.
*---3rd Gen---*


Ini cerita buatan gue yang terinspirasi dari kalian. Makasih udah mewarnai hidup gue dengan warna-warni yang indah. :)
-1200003-

Rabu, 15 Oktober 2014

inilah thirdgen

 Oleh : Icha

bosan,sebal, dan gak betah. kata itulah yg mewakili perasaanku saat pertama kali aku masuk asrama. semuanya terasa asing, dan tidak bersahabat. yg tadinya tidak perlu antri mandi, jadi harus antri. yang tadinya tidak perlu berbagi tempat tidur, jadi harus berbagi dll. saat itu aku merasa tidak betah, dan selalu ingin hari cepat berlalu menjadi hari sabtu. tetapi hari berganti hari,minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, aku mulai merasakan 'solidaritas' yg kita punya. aku mulai bangga menjadi bagian dari kalian, sungguh. bahkan jika yang dulunya aku benci hari senin menjadi aku benci hari sabtu. kalian yang berasal dari berbagai tempat, mengajarkanku budaya dari tempat kalian masing-masing. kalian, ya kalian! ingatkah saat class meeting? atau room meeting? betapa ramainya suara yang bersahutan menyemangati, memperhatikan, bahkan ikut membantu. kita memang bukan terlahir dari satu ibu, tetapi kita lebih dari seorang keluarga. Afif yg pendiam, tapi kadang juga gokil Agus yang supel, pinter, good-looking (ciye) Annisa yg lucu,konyol,smart, dan kadang pake krudungnya asal-asalan (peace) Andika yang gaje (banget), humoris Deni yang gaje pol iki malah (peace den) Faris yg leadership,supel,ramah Fatim yang gaje,jail,humoris(sitik) Fiky yang pinter kaligrafi,kadang juga gaje sih.. Ida yang pol jail,pol-polan ah sampek sebel kadang (salam watahok) Imam yg kalem tapi ternyata humoris,smart,baik,dll, 
Jamil yang good-looking,smart,mancung,handsome,dll :D(spesial person :D) Iif yang pinter nyanyi, supel, (my twin) Ilham yg pendiem(kadang),smart,kocak Irvan yang kalem,supel,pendengar yang baik,smart. Al-farizi yang imut, walaupun kadang nyebelin, good-looking. Kevin yang gaje,seru,kocak,dll. Ato' yang kocak,kadang nyeremin juga sih. Rizkiawan yang kayaknya pendiem tapi gak, smart,supel,ahli design,black sweet,dll. Bowo yg care,good-looking,smart. Dwi yang suka nyanyi,yang suka banget sama coklat,. Rosy yang kalem,alim,cantik,smart. Uswah yang gila,yang setres,yang gaje,yang nyebelin tapi baik,supel,crewet banget, dan pendengar yang baik. Tata yang suka olahraga,supel,smart,yang pertama bisa gerakan roly poly (haha). Umi yang k-popersnya gak ketulungan,yang sekarang kurusan(ciyee) yang supel,baik,enak diajak ngobrol,pendengar yang baik. Yusuf yang gaje,yang rumahnya diplosok Lina yang culun,yang supel,smart,enak diajak ngomong,dan pendengar yg baik(my culun) Amel yang ngeselin,yang gaje, yang sok cantik (apa lu mel :p) Vira yang suka nyanyi juga,yang tomboi banget, suka banget narsis,dll Mahardika yang pendiem,alim,khusu', tapi humoris juga. aku kangen kalian semuaaa :') kenapa kebanyakan aku tulis gaje? karena sebenernya aku gak begitu tahu sifatnya hehe. makasih buat 3 tahun yang penuh warna ini. makasih udah mau nerima aku yang cerewet,yang ngeselin,yang ceroboh, yang gak sempurna :') makasih buat semuanyaaa:) salam kangen buat kalian semua;) good luck buat kita semuaaa ;;)

Kamis, 02 Oktober 2014

data diri

Minggu, 07 September 2014

sahabat


Pertama kali masuk, aku gak begitu suka tempat ini. Gak ada orang yang aku kenal. Sampai akhirnya aku ketemu orang yang ku kira sinis tapi ternyata mudah bergaul. Icha, begitulah aku memanggilnya, kita semakin deket dan akhirnya jadi sahabat. Tapi dia bukanlah sahabat satu-satunya untukku. Aku punya banyak sahabat yang mau ndengerin semua ceritaku, yang mau hibur aku kalo lagi sedih, yang mau bantu aku kalo aku butuh bantuan. Merekalah keluarga keduaku. Gak pernah ada perbedaan diantara kita. Baik yang miskin atau kaya, cantik atau jelek, pinter atau bodoh, gak ada perbedaannya sama sekali. Di tempat inilah kita dipertemukan menjadi sebuah keluarga yang saling mengasihi satu sama lain. Boarding School Az-Zahra, tempat dimana aku mengerti arti sebuah keluarga, tempat dimana aku bisa mendapatkan pelajaran hidup yang bisa membuatku menjadi lebih baik. Senang bersama, susah bersama, semua kita lakukan bersama-sama. Meskipun kita berasal dari tempat yang berbeda-beda tetapi, kita tetap bisa bersatu dalam menghadapi permasalahan, dalam berbagi kebahagiaan, bahkan dalam suasana yang sedih pun, kita masih tetap satu. Selain suasana di boarding atau lebih sering kita memanggilnya asrama, ada hal yang lebih membuatku bahagia ketika berada di sana, yaitu teman-teman satu angkatanku. Meskipun awalnya kita tak saling mengenal, tapi pada akhirnya kita saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Kita tak hanya menjadi seorang teman, tapi kita adalah suatu keluarga yang satu. Banyak peristiwa yang menjadi kenangan indah untuk kita. Salah satu hal yang paling aku sukai ketika ada perlombaan antar kamar di asrama kita. Saat itulah aku merasa kita benar-benar satu. Saat pertandingan bola basket putri, pertandingan sepak bola putra, pertandingan voli putra dan putri, dan masih banyak lagi. Saat itu aku merasa kekompakan itu ada, kita saling mendukung, kita saling menyemangati, dan kita saling menasehati satu sama lain. Hingga akhirnya perpisahan itu datang, ketika kita berada pada panggung perpisahan, dimana terakhir kali kita dapat berkumpul bersama dan bercanda bersama. Meskipun kita tetap bisa bertemu dan berkumpul di lain waktu, tapi akan sangat berbeda jika biasanya dari kita mulai membuka mata dan menutup mata kembali selalu bersama, dan saat ini kita tak dapat melakukannya lagi. Tapi aku yakin, meskipun kita berada di tempat berbeda, pada saat kita bertemu dan berkumpul kita akan biasa layaknya keluarga yang telah lama tak bertemu. Tak ada kata canggung diantara kita, karena kita satu.

                                                                                                 
                                                                                                 By: Zunia Nafi'atullina

Kamis, 28 Agustus 2014

Kesuksesan yang Penuh Rintangan


Kesuksesan yang Penuh Rintangan
11 Juli 2010....hari itu akhirnya datang juga hari dimana kami akan memulai kehidupan baru kami di asrama dan hari dimana kami akan menemukan jatidiri kami.
Pondok Pesantren AZ-Zahrah, ya itu adalah tempat yang akan kami tinggali selama tiga tahun untuk mencari ilmu. Dan di tempat ini juga kami mulai mengenal satu sama lain,tem pat dimana kami menjadi satu keluarga, dan tentunya tempat dimana Third Generation tebentuk.
Hari senin pun tiba, kami pun mulai bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ya hari ini adlah hari pertama kami masuk sekolah. Kami memulai hari dengan penuh semangat dan dengan penuh harapan. Kami ingin selepas kami lulus dari sekolah nanti kami bisa menjadi orang yang sukses.
Mungkin di minggu-minggu pertama kami masuk ke asrama kami masih belum bisa melupakan suasan rumah, dan selalu teringat dengan keluarga yang ada di rumah. Dan banyak dari beberapa kami yang menangis, jatuh sakit karena belum krasan. Dan banyak kejadian- kejadian lucu padaminggu-minggu pertama ini. Seperti ada yang ngelindur sambil mengejar temannnya,ada yang nangis sambil ditunggui ibunya di kelas,ada yang suka menyendiri, ada yang selalu dibawakan air dari rumah karena takut anaknya sakit dan masih banyak lagi. Dan tentunya hal-hal seperti inilah yang akan kami ingat setelah kami lulus nanti dan menjadi kenangan indah.
Di kelas VII ini kami mulai mengenal apa arti sahabat dan apa gunanya punya sahabat. Ya sahabat akan menjadi sesosok penghibur di saat kita sedih. Menjadi penyemangat saat kita jatuh.
Hari demi hari,bulan demi bulan telah kami lewati, dan tidak terasa kami telah menjadi kelas VIII. Disinilah kebersamaan kita mulai terjalin. Kami tidak lagi Mengenal  lagi perbedaan kelas, bagi kami semua sama dan bagi kami semua adalah keluarga. Akan tetapi di tahun inilah kami mulai mendapat beberapa masalah yang cukup membebani kami. Kami sering dibandingkan dengan kakak-kakak kelas kami. Banyak yang mengatakan bahwasanya kakak kelas kami jauh lebih pintar daripada kami,mereka juga lebih baik perilakunya daripada kami, ada juga yang bilang kami adalah generasi yang hilang. Kami sempat minder dengan apa yang telah mereka katakan. Dan kami pun merasa bahwasannya generasi kami memang generasi yang paling buruk. Jadi kami sempat cuek dengan apa yang orang-orang katakan tentang kami, kami pun sering melanggar peraturan dan sering nakal. Karena beberapa dari kami berfikiran “kalau sudah rusak ya sekalian rusak”. Akan tetapi kami sadar bahwasannya hal itu tidak menyelesaikan masalah, jadi kami sedikit demi sedikit mulai sadar dan berbenah untuk menjadi lebih baik.
Dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kami pun sudah menjadi kelas IX. Dan masih banyak yang meragukan bahwasannya generasi kami akan lulus dengan nilai yang memuaskan. Akan tetapi hal itutidak membuat kami down justru ha itu-lah yang membuat kami termotivasi untuk membuktikan bahwa yang orang-orang katakan itu salah. Kami pun berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Tujuan kami adalah kami bisa lulus Un dengan nilai yang terbaik dan dapat masuk ke sekolah favorit.
UN pun datang, siap tidak siap kami harus menghadapinya, karena inilah saatnya untuk membuktikan generasi kami adalah generasi yang tebaik. 4 hari pun berlalu, dan alhamdulillah kami dapat melewatinya dengan lancar. Kami tinggl berdoa dan bertawakal kepada Allh SWT, sambil menunggu pengumuman. Dan sendari kami menunggu pengumuman , kami mendapat berita yang menggembirakan 6 orang dari kami diterima di MAN IC, sekolah favorit yang  paling dituju di sekolah kami. Kami merasa sangat senang. Kami juga merasa puas, akhirnya kami dapat membuktikan bahwasannya generasi kami tidak seburuk yang orang-orang fikirkan.
Acara perpisahan pun tiba, acara dimana perasaan kami menjadi campur aduk antara senang sedih, dan deg-degan.senang karena akhirnya kami dapat menyelesaikan masa MTS kami, sedih karena kami tahu acara ini mungkin detik-detik terakhir kami bisa berkumpul dan tertawa bersama, dan deg-degan karena kami masih menunggu hasil UN kami. Kami pun melalui acara ini dengan suka duka. Dan acara pun ini berjalan dengan lancar dan acaranya pun sangat menghibur. Dan kami berharap acara ini bukanlah akhir dari cerita persahabatan kami. Dan kami berharap cerita persahabatan kami terus berlanjut sampai maut menjemput.
Dan hasil UN pun telah keluar, kami sudah tak sabar untuk melihat hasilnya. Dan alhamdulillah kami lulus 100% dengan nilai yang cukup memuaskan. Kami puas dan merasa sangat senang sekali.
Satu persatu dari kami pun mulai mengemasi barang-barangnya. Itu pertanda bahwasannya kami akan mulai berpisah tempat. Kami harus menerima kenyataan ini, benar kata pepatah bahwasannya setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan kini hal itu telah terjadi. Tetapi kami menganggap perpisahan ini bukanlah pertemuan terakhir kami akan tetapi ini hanyalah perpisahan tempat kami. dan hati dan raga kami tetaplah satu yaitu THIRD GENERATION.
Kawan mungkin kita memang sudah tidak bisa lagi tinggal bersama-sama, mungkin kita akan jarang lagi untuk tertawa, menangis, bersama. Tapi ingat kawan kita pernah tinggal satu atap selam tiga tahun. Kita juga sudah membina kebersamaan ini dengan baik. Saya berharap kebersamaan dan  kekeluargaan ini selalu terjaga. Jadi tanamkan dalam hati kecil kalian bahwa kita adalah keluarga, dan kita tetap menjadi satu tubuh yaitu Third Generation.
Dan saya juga berharap bahwa kesibukan kalian selama di sekolah tidak membuat kebersamaan kita berkurang. Saya tahu kalian semua sibuk dengan urusan kalian masing2, tapi apalah beratnya menulis sepenggal cerita untuk menghibur satu sama lain. Lagian ini juga untuk menjaga jebersamaan kita kan?maaf jikalau perkataan saya menyinggung kalian, tapi ini demi kekompakan kita