Third Rainbow
[1]
World Cup Pertama dan Terakhir
Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Jangan
salahkan pertemuan, jika berakhir dengan
perpisahan. Jangan salahkan waktu yang telah membuat semuanya berjalan begitu
cepat. Namun salahkan dirimu, yang belum mampu memanfaatkan waktu antara pertemuan
dan perpisahan…
“Cepat sedikit dong, Bu, Annisa udah nggak sabar
nih,” desakku pada ibu untuk segera berangkat.
“Iya, iya, Sayang. Nggak sabar kenapa sih?”
tanya ibu. Lalu masuk ke dalam mobil.
“Ya, aku pengin ketemu teman-teman baru,”
jawabku.
Sebenarnya dorm-nya nggak terlalu jauh, hanya
puluhan kilo saja. Namun bawaanku banyak sekali. Maklum saja, pindahan pertama
kali, sih.
Selama dalam perjalanan, aku diam. Tak banyak
bicara. Namun hati menggebu-gebu ingin segera sampai tujuan. Ayah dan ibu juga
diam. Hanya beberapa patah kata nasehat. Selebihnya, mbah putriku yang terkenal
teliti (kalau nggak boleh di bilang cerewet) telah membicarakannya.
Aku menatap jauh ke luar jendela mobil. Menekuri
titik-titik air yang jatuh dari langit. Menyisakan dingin di hatiku. Aku makin
tidak sabar untuk sampai ke dorm. Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku juga
ingin melihat wajah seseorang di sana… Di Azza Islamic Boarding School…
*---3rd
Gen---*
Aku sampai di depan gerbang dorm (asrama).
Aku berjalan di depan. Sampai juga rombongan kami di ruang tamu. Di sana ada seseorang laki-laki. Tinggi sekali!
Tampaknya pengurus dorm. Ia menerima kedatangan kami. Lelah tergambar jelas di
wajahnya. Namun tetap ramah menyambut kami.
Aku di suruh memilih lemari. Aku memilih warna
merah marun.
“Aku suka yang ini, Bu,” bisikku pada ibu.
Kemudian aku di suruh memilih kasur busa. Aku pilih warna hijau toska. Setelah
itu, membawa semua barang-barangnya ke lantai 2, letak kamarku berada.
“Eh, iya. Salam kenal juga. Aku Mar’atul Latifah
Jauharin Nafi’. Panjang ya? Panggil aja Iif. Kamu?” Aku melewati beberapa
teman-teman baruku yang saling berkenalan.
“Aku
Farikhah Izzatun
Ni’mah. Panggil aja Icha,” ingin
sekali aku berkenalan, namun yah, aku masih harus membereskan barang-barangku
yang menggunung.
“Sa, jangan nakal ya, sama teman-temanmu. Jangan
pelit, jangan sombong, iri. Biasa saja. Ya?” pesan ibu sebelum pamit. Aku
mengangguk patuh. Masih saja di perlakukan seperti anak kecil. Hal yang paling
aku benci.
“Baiklah,
ibu pulang dulu. Harus betah di sini, ya?” tambahnya.
“Ya, Bu,” aku mengantar ibu sampai di pintu
kamar.
“Eh, hai. Salam kenal, ya. Aku Annisa.
Kamu?” tanyaku pada pemilik lemari di sebelahku. Aku mengulurkan tangan.
“Hai juga. Salam kenal balik. Aku Iif,”
balas cewek itu. Ia menyambut uluran tanganku.
“Sebentar ya. Aku mau kenalan sama yang lain,”
pamitku, lalu keluar kamar.
“Iya, aku Umi. Kamu lupa, ya? Atau pura-pura lupa?
Kamu ‘kan temannya Ervan,” Aku mendengar seseorang berbicara. Lalu berbalik.
Tak jadi keluar.
“Umi?!” pekikku senang. Segera menghampiri cewek
itu.
“Kamu ternyata sekolah di sini juga,” sambut Umi.
“Iya lah, masa’ dapet rejeki di buang-buang,”
aku dan Umi memang dapat beasiswa dari sekolah.
“Senang ya, dapet teman-teman baru… Eh, sini
yuk,” ajak Umi. Aku mengikutinya.
“Eh, Umi. Sini
yuk, gabung,” ajak seorang cewek berkerudung biru muda.
“Kamu juga. Sini gabung, namamu siapa?” cewek
itu menunjukku. Aku mendekat dengan ragu. Sejenak aku berhenti.
“Ayo, nggak usah malu-malu. Kita ‘kan bala,”
ucap cewek itu lagi.
“Hehehe,” mereka tertawa. Akupun ikut tertawa. Cewek
itu menarik tanganku. Lalu aku duduk.
“Umm, aku Annisa,” aku mengulurkan tangan. Cewek
berkerudung biru itu menyambutnya.
“Aku
Vira Octavia.
Vira,” jawabnya. Lalu di ikuti teman-temannya yang lain.
“Aku
Tata,”
“Fatim,”
“Aku
Idha,”
“He eh. Senang kenalan sama kalian,” ucapku
riang.
“If, temani aku ke toilet yuk,” aku menoleh. Seorang
cewek berkerudung pink dan biru, cantik sekali dan kulitnya putih bersih. Aku
terpana. Tampaknya anak orang berada.
“Cantik, ya, putih lagi. Tapi sayang, orangnya
judes,” bisik Fatim.
“Oh ya? Aku kira dia baik,” aku tak percaya. Fatim
mengangkat bahu.
“Entahlah. Lihat saja dia, dari tadi nggak mau
gabung dengan kita-kita,” tambah Idha. Aku diam saja. Memainkan ujung jilbab
putihku, berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Allahu akbar, Allahu akbar,” terdengar adzan
Maghrib berkumandang.
“Wah, sudah adzan. Kita sholat di mana, nih?”
tanya Umi.
“Di musholla mungkin,” jawabku sambil
mengeluarkan seperangkat alat sholat.
“Tapi mendung. Lihat!” Tata menunjuk ke luar
lewat jendela.
“Coba saja lihat ke luar. Mungkin kakak kelas ke
musholla,” suruh Idha pada Fatim.
“Iya, ke musholla,” Fatim mengumumkan. Semua
teman-temannya segera menyusul.
Sampai di musholla, mereka melanjutkan
percakapan, sambil menunggu teman-teman yang lain selesai berwudhu.
"Eh, tau nggak, orang yang tadi di ruang
tamu itu, iya, yang tinggi banget itu ternyata pengasuh kita lho," Vira
berbisik. Ia menunjuk-nunjuk.
"Masa' sih?" gumam Umi tak percaya.
Aku hanya diam mendengarkan. Tak tahu apa yang harus di lakukan.
Sholat segera didirikan. Imam sholat-nya adalah
laki-laki yang tadi berada di ruang tamu. Setelah sholat dan do’a si Imam tadi
segera berdiri.
"Ehm, ehm, Assalamu'alaikum Wr.Wb,"
laki-laki yang di bicarakan Vira tadi maju ke depan. Lalu berbicara, tepatnya
sih, berpidato dengan bahasa yang sangat tidak di mengerti oleh kami –bahasa
Arab. Kami diam walau tak paham. (Tepatnya sih, karena tak paham…)
Tiba-tiba, listrik padam. Aku dan teman-teman
kaget.
"Hiy! Nih mukena punya siapa sih? Bikin
kaget aja," bisikku. Aku menekan suara cemprengku agar tidak terlalu
terdengar oleh pengasuh.
"Punyaku!" aku tidak tahu suara siapa
itu.
“Fatim,"
"Sst, kalian bisa diem
enggak sih?" Umi merasa terganggu. Ia asyik mendengarkan ceramah.
"Yee, mentang-mentang murid baru, terus di
suruh jadi anak manis gituh?" gumam Tata. Aku, Umi dan Idha nyengir.
"Ehm-ehm" pengasuh kami, yang ternyata
bernama Kak Taufik, kembali berdehem. Kami –aku cs., terkikik.
"Sst, dia tau kalo kita rame," bisik Idha,
lalu kembali mendengarkan.
"Seperti inilah suasana di alam kubur,
sendirian, gelap, dingin," lanjut Kak Taufik,
kali ini menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menurut ejaan
yang di sempurnakan.
"Hiy, mati listrik kayak gini malah
ngomongin kuburan," celetuk Vira. Namun teman-temannya tak ada yang
merespon. Ia hanya mengangkat bahu.
"Yang nemenin dan nerangin kita di kubur
hanyalah amal baik kita di dunia," lanjutnya. Ce es-ku mendengarkan sampai
selesai. Salah satu ucapan Kak
Taufik yang aku ingat,
"Ke Azza,
apa yang kau cari?"
*---3rd
Gen---*
Selesai sholat Isya', anak-anak pulang ke dorm.
Mereka saling bercanda, tertawa, bahkan lari-lari kesana kemari.
"Hiiy, Agus... Kamu bakat jadi pemain
wayang orang deh," teriak Icha melihat tingkah Agus. Ia cuma nyengir. Icha
kembali bernyanyi-nyanyi. Suaranya memang bagus, sih. Merdu. Tapi bukan MERusak
DUnia loh.
“Baby, baby, baby, ooh, like,
Baby, baby, baby, ooh, like
Baby, baby, baby, ooh,
That’s you always be mine, mine,” Icha mendendangkan lagu Baby-nya Justin Bieber
yang sedang naik daun. Vira, Idha, dan Fatim menggerombol di depan pintu kamar
kelas VIII.
“Malam setelah Isya’, biasanya di gunakan untuk
belajar,” kata Kak
Tika, kakak kelas kami, saat
mereka bertanya apa kegiatan setelah sholat.
“Tapi karena malam ini pertama kalinya kalian di
sini, jadi tidak ada kegiatan. Alias bebas. Apalagi besok kalian harus apel dan
mengikuti MOS,” lanjutnya.
“Yes! Asyik!!” seru mereka. Segera berlari ke
kamar.
"Hai teman-teman, saudara-saudari, putra
maupun putri, yang tua maupun yang muda, jangan lewatkan! Nanti malam jam 00.45
ada final World Cup, Spanyol vs. Belanda… Siapa yang mau bangun? Sama aku
ya?!" aku mengumumkan dengan semangat. Aku ‘kan gibol. Gila bola.
Banyak komentar dari teman-teman.
"Sepakbola? Nggak banget deh, Sa. Aku nggak
suka," Icha merespon.
"Aku mau bangun! Aku dukung Spanyol!"
seru Umi. Umi mengacungkan dua jempolnya untukku.
"Aku nggak nonton. Tapi aku dukung
Belanda," sahut Idha.
"Aku dukung Spanyol aja. Mudah-mudahan bisa
bangun," jawab Dwi.
Mereka telah menyusun kasur busa mereka. Aku di
apit oleh Umi dan Iif. Di sebelah kanan Iif, ada Icha. Ia terlihat asyik
menggambar sambil bersenandung kecil. Aku dan Iif merubungnya.
“Kamu hobi nggambar ya, Cha?” tanya Iif.
“Nggak juga sih. Aku lebih suka nyanyi,” jawab Icha
tanpa menoleh. Ia masih asyik dengan gambarnya. Aku beralih ke kasurku,
mengobrol dengan Umi.
"Hey, kamu nggak pasang alarm dulu?"
aku mengingatkannya. Umi yang tadinya bersiap tidur kembali meraih ponselnya.
"Jam berapa Sa?" tanyanya kemudian.
"Umm, jam 00.45 aja," jawabku.
"Eh Annisa, Umi, coba lihat kesini
deh," ucap Iif. Aku mendekat.
"Apaan?"
"Nih, kamu bisa nggak, nyetting temanya?
Susah banget," Iif menyodorkan ponselnya ke arahku.
"Gini sih, kecil," jawabku
mengotak-atik ponsel Iif.
"Tuh ‘kan, udah bisa, kamu aja yang nggak
sabaran," aku menyerahkan ponselnya. Iif berterimakasih.
"Ahh, malang sekali nasib
kita...Hahaha," tawa Fatim pada Idha.
“Nggak ah, biasa aja,” jawab Idha ketus. Ia
kesal sekali. Belum sehari di sini sudah dapat musibah. Aku melirik mereka
berdua.
“Ada apa?”
Namun Idha hanya menunjuk dengan matanya ke arah
kasurnya dan kasur Fatim, yang kini telah di tempati Amel. Bahkan tak hanya
kasur, bantal milik Idha pun di pakai Amel untuk tidur.
“Sudahlah, nanti tidur sama aku ‘kan bisa,” Tata
menenangkan. Sedangkan Fatim malah sudah Pe We –Posisi Wuenakk di dekat Tata.
Aku tak bisa menahan tawa.
"Hey, kalian nggak tidur?" tanya Icha.
"Kamu sendiri nggak tidur gitu kok,"
jawab Iif.
"Yah, masa’ teman-teman nggak tidur, aku
kok tidur sendiri," jawab Icha.
"Lagi pula nggak ngantuk, kok,"
lanjutku. Icha mengacungkan kedua jempol tanda setuju.
"Eh, teman-teman, sst, diam, Kak Taufik
mau kesini," Idha mengumumkan. Semua tak merespon. Aku dan Umi sedang
mengobrol tentang hasil final nanti. Seru banget.
“Kayaknya nanti berakhir dengan penalti,”
ucapku. Umi mengangguk.
“Dan pasti Spanyol juaranya,” sambutnya riang.
Iif dan Icha sedang bercakap-cakap.
“If, kamu anak orang kaya, ya?” tanya Icha. Ia
dan Iif sedang seru membicarakan sesuatu. Iif menggeleng.
“Nggak kok. Biasa aja,” jawabnya.
Dwi, Uswah, Vira dan Fatim bermain ponsel.
“Hey, games di ponselku baru-baru semua lho,”
pamer Fatim pada mereka. Semuanya mendekat.
Tata dan Roya membicarakan tentang keluarga
meraka. Idha gemas sendiri. Ia beranjak ke kasur Tata, bersiap tidur sambil
sesekali menimpali cerita mereka.
“Tok, tok, tok,” pintu di ketuk. Umi yang telah
membuka jilbabnya segera meraih dan memakainya. Aku langsung menutup mata,
pura-pura tidur. Yang lain diam.
Setelah semua beres, Roya membuka pintu. Ternyata
benar kata Idha, Kak Taufik.
"Kok belum pada tidur? Kalian pikir ini jam
berapa?" tanya Kak
Taufik.
“Aku pengin nonton final World Cup, Kak,” aku
tak tahan untuk tetap berpura-pura tidur.
“Iya kak, ini ‘kan terakhir kalinya, besok sudah tidak ada
lagi,” Umi dan Dwi mengiyakan.
“Tapi World Cup masih lama. Ini baru pukul
11.15,” jawab Kak Taufik.
“Iya, baru pukul 11.15 kok di suruh tidur?” aku
balik bertanya. (Kurang ajar sekali pertanyaanku. Hehe...)
“Ya sudah terserah kalian, yang penting kalian
harus tidur. Kakak juga mau nonton, kok. Kalau kalian mau, nanti kakak
bangunin,” Kak Taufik menyuruh anak-anak. Kemudian pergi.
“Hah! Baru enak-enak cerita malah di suruh
tidur,” Icha membuang selimutnya. Ia segera duduk.
“Iya, nyuruh tidur, tapi dia sendiri belum
tidur,” omel Iif. Yang lain melanjutkan aktivitas mereka yang sempat terganggu
oleh penampakan Kak
Taufik. (Jahat sekali. Masa’
penampakan?! Genderuwo kale…)
"Wah, kamu ini bisa aja, Ta," kata Dwi
di sela-sela tawanya. Aku termenung melihatnya. Teringat sesuatu. Dwi itu…
"Oh iya, Sa, aku ‘ntar nggak jadi nonton
deh," ujar Dwi. Panjang umur…
"Kenapa?"
"Kayaknya aku nggak kuat, ngantuk..."
jawab Dwi. Aku sedikit kecewa.
"Kamu nonton kan? Umi?" tanyaku. Aku
berharap dapat nonton World Cup terakhir tahun ini. Juga terakhir di dorm ini. (Hiks,
hiks…)
"Ya. Cepatlah kamu tidur. ‘Ntar nggak kuat
lo..." jawab Umi malas.
"Ya, ya..." setengah hati, aku
berbaring juga.
“Oh,
besok sudah sekolah ya? Nggak nyangka udah kelas VII,” ucapku.
“Iya, cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku
ikut UN,” tambah Roya.
“Juga rasanya baru kemarin aku nonton Opening
World Cup,” seruku. Teman-teman yang lain mengingatkan.
“Annisa, suaramu! Nanti Kak
Taufik kesini lagi,” Dwi
mengingatkan.
“Ops!” aku menutup mulut. Sorry all…
Yang lain segera sibuk dengan aktivitas mereka.
Beberapa saling mengingatkan agar tidak berisik. Namun akhirnya tidak bisa
menahan suara-suara mereka yang cempreng bak seribu panci peyok karatan jatuh
dari puncak Monas. (Itu sih, nggak terlalu gaduh suaranya)
“Roya! Tolong dong, nyalain lampunya! Satu aja.
Iya yang barat. Nah, sip!” teriakku. Teman-teman sudah capek mengingatkan. Biarkan
saja, toh paling-paling cuma Kak
Taufik yang kesini nanti.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas. Idha yang
melihatnya segera berbisik.
“Kak Taufik datang!” beberapa saat kemudian
semua penghuni kamar 02 terlihat rapi dengan kerudungnya, sedikit lebih tenang
namun hanya beberapa yang pura-pura tidur. Yang lain duduk bahkan ada yang
berdiri.
“Kalian! Kenapa nggak tidur-tidur juga?! Suara
kalian itu terdengar sampai kamar kakak,” tegur Kak Taufik. Dia berdiri di
depan pintu. Semua terdiam.
“Besok kalian harus ke sekolah. Kenapa belum
tidur? Kalian bisa ngantuk di kelas,” ceramah Kak Taufik.
Aku menunduk. Yang lain diam.
“Belum ngantuk kok, kak,” jawabku memecah
keheningan. Yang lain mengangguk membenarkan.
“Ya sudah, dipejam-pejamkan saja matanya, ‘ntar
juga tidur sendiri,” Kak Taufik menutup pintu.
Sepertinya mereka telah mengantuk. Aku
merebahkan badan. Sudah mengantuk. Yang lain juga. Hanya beberapa yang masih
‘hidup’. Uswah dan Idha main game di ponsel mereka. Akhirnya lampu dimatikan.
Aku tidur dengan bahagia.
*---3rd
Gen---*
Ini cerita buatan gue yang terinspirasi dari kalian. Makasih udah mewarnai hidup gue dengan warna-warni yang indah. :)
-1200003-